Monday, 25 July 2016

10 Cover Buku #VokasiKemendikbud



 1. Achieve of Dream by Rachman Noer

Buku ini menceritakan pengalaman traveling ke tiga saya ke Singapore. Berawal dari sebuah informasi via inbok di Facebook dari Gol A Gong bahwa saya akan dilibatkan dalam kegiatan vokasi menulis dari Kemendikbud melalui program beasiswa. Karena saat itu saya sedang mengikuti ajang lomba tingkat Nasional di Palu Sulawesi Tengah, saya jadi kurang fokus dengan tawaran ini. Namun setelah ketua PKBM BCU menginformasikan kelanjutan program ini, saya hanya punya dua pilihan di ambil atau tidak, karena jadwal acara bentrok dengan lomba. Setelah reschedule saya memutuskan untuk ikut.
Ada yang spekta dari kegiatan ini, karena karya kecil saya dari buku perdana bertajug " Spirit of Singapore" membuahkan andil terhadap program literasi Indonesia. Menjadi salah satu rujukan serta mendapatkan apresiasi dari Kemendikbud menjadi tasyakuran saya, bahwa jika karya dibarengi dengan hati maka hasilnya akan membumi. Namun ada sesatu yang beda dengan traveling saya sebelumnya, program ini diikuti oleh 100 pegiat literasi se- Jabar, DKI, dan Banten. Ada target dalam perjalanan kali ini, yaitu Achieve of Dreams dalam mewujudkan buku ke 3 yang lebih dalam antara idealis dan realistis.


2. Aku dan Ketidaktahuanku by Edi Sufandi
Kekagumanku semakin menjadi terhadap negara mungil ini ketika memperhatikan dan merasakan transportasi umum nya yang menurutku benar-benar memanusiakan manusia. Petunjuk di setiap jalan jelas, bahkan hingar bingar kegaduhan suara klakson kendaraan pun nyaris tak terdengar mulai dari Bandara Changi hingga penginapan. Negaranya bersih dan berteknologi maju. Tidak heran jika Changi International Airport menjadi salah satu bandara internasional terbaik di dunia. Karena fasilitas pendukung yang memadai yang mampu memanjakan pengunjungnya.

3. Amazing by Aray Zaenal Abidin
Disiplin dan ketaatan akan aturan yang membedakan Singapura dengan negara-negara lainnya di Asia Tenggara. Tak heran jika penulis tidak dapat menyembunyikan ketakjubannya saat pertamakali menginjakan kaki di Negara tersebut. Bisingnya lalulintas dan suara klakson yang dibunyikan keras-keras tak terdengar meskipun berjalan-jalan di tengah kota. Tak hanya itu, di pusat-pusat kuliner dan titik-titik keramaian tak ditemukan pengamen. Urusan menyanyi di tempat umum saja, ada aturan yang sangat ketat. Jika tidak punya lisensi atau surat izin, maka jangan harap dapat bernyanyi di ruang-ruang publik. 



4. Jejak Impianku by Rohim
Penulis: Rohim, TBM Nurul Aghnia Kabupaten Kuningan Jawa Barat
“Jejak Impianku” inilah catatan perjalananku untuk pertamakalinya ke luar negeri. Rasa haru dan bangga tak dapat kubendung. Sebuah anugerah yang tak ternilai harganya karena ini juga menjadi impian banyak orang. Tak kusangka, mungkin ini sudah merupakan takdir Tuhan sehingga tepat di akhir Mei 2016 aku mendapat kabar terpilih mengikuti program Vokasi Menulis Kemendikbud ke Singapura setelah sekian lama bergabung dengan teman-teman penggiat literasi di TBM Nurul Aghnia di Kabupaten Kuningan. Perjalanan ini merupakan langkah awal menuliskannya menjadi sebuah buku.
 


 5.  Kuliner di Negeri Labirin by Bidara Sary
Makanan merupakan cerminan keberagaman budaya suatu negeri. Begitu pula dengan Negara Singapura. Meski kecil, negeri seribu satu aturan ini kaya dengan keanekaragaman kulinernya. Ini menjadi daya tarik lain, selain tata kota dan sistem transportasinya. Yah kuliner. Negeri Singa ini dihuni tidak hanya etnis Tionghoa, namun juga Arab, India, Melayu dan Banglades. Tak heran jika penulis menemukan beragam makanan, dari mulai nasi briyani, laksa, mie soto, hingga nasi padang. Aturan ketat terkait kesehatan makanan dan aturan-aturan lainnya membuat makanan di sana pun aman dikonsumsi. Untuk mencari makanan halal pun tak sulit, sebab pemerintah sidah memberikan tanda mana restoran yang menyajikan makanan halal dan yang tidak. 



6. Literaksi: Petualangan Sejuta Makna di Negeri Singa by Andri Gunawan
Buku ini bercerita tentang pengalamanku memasuki fantasi dunia literasi yang penuh misteri, dimana aku harus belajar menyelami dasarnya lautan untuk menembus lorong - lorong gelap yang penuh cobaan dan rintangan demi menggapai sebuah impian melukiskan sebuah keabadian. Mimpiku menjadi kenyataan ketika Kemendikbud, Rumah Dunia dan FTBM Indonesia menyelenggarakan Vokasi Menulis Kemendikbud, ke Singapore. Penulis menceritakan tentang pengalamanya selama menjelajahi Negeri 1001 larangan itu. Diantaranya mengenai kedisiplinan dan ketertiban yang sudah menjadi budaya masyarakat disana, serta system kemanan CCTV yang tersebar seantero negeri itu, dapat menjamin keamanan warganya. 



7. Menemukan Islam di Negeri Tetangga by Cahyati 
Berawal dari sebuah khayalan untuk bisa menginjakkan kaki di Negeri Seribu Satu Peraturan, perjalanan pun dilalui dengan berbagai warna. Buku ini menceritakan kisah perjalananku di Singapura serta butiran hikmah di dalamnya. Bukan hanya sekadar bangunan-bangunan yang menjulang tinggi nan indah yang telah tertata sangat menawan, bukan pula karena canggihnya transportasi yang berlalu lalang di bawah pijakan kaki manusia, tapi aku merasa menemukan Islam di negeri ini.
Singapur yang Islami, begitulah aku menyebutnya. Meski pemeluk agama Islam tercatat sebagai minoritas, namun ajaran Islam diterapkan di sana. Mulai dari kebersihan, kedisiplinan, kepedulian, semangat belajar, dan hal lainnya. Di negeri yang terkenal dengan patung Merlion-nya itu, aku menemukan banyak hikmah bahwa Islam bukan hanya ajaran tapi pelaksanaan.


 8. Menjemput Cita di Negeri Singa by Asri Rismalah
Buku ini berisi, tentang pengalaman seorang anak perempuan, yang selalu berhayal dan bermimpi terbang naik pesawat ke negeri-negeri di belahan dunia lain. Di penghujung Mei 2016, mimpi itu menjadi nyata. Do’a yang ia panjatkan bertahun-tahun dijawab Tuhan. Di atas pesawat, air mata membasahi pipinya. Dari perjalanan yang dilakukan dia dapat melihat Indonesia dari jauh, bukan untuk membandingkan indahnya Indonesia, namun membaca Indonesia dari luar.  


9. Merlion I'm Here by Ukhti Sakinah
Ini kali pertama saya melakukan perjalanan ke LN, sebuah perjalanan singkat namun penuh dengan cerita. Tidak ada cerita duka dalam perjalananku, karena semua cerita duka dapat diubah menjadi cerita indah pada akhirnya. Namun bukan berarti tidak ada lika-liku dalam perjalanan ini. Tiga hari di negeri orang membuatku dapat memahami dan menghargai karakter masing-masing teman-temanku. Karena ada pepatah yang mengatakan "Jika kamu ingin mengetahui sifat asli dari temanmu, ajak lah dia bepergian jauh. Ya, bepergian jauh! Dan saya sudah membuktikan itu. 

10. ?

Wednesday, 13 July 2016

Film dan Kreativitas Anak Muda Banten

filmmakeriq.com
 
Selasa malam (5/4/2016), ruang meeting basecamp Komunitas Banten Muda yang tidak seluas kamar mandi Paris Hilton itu mendadak sesak. Peserta diskusi sampai bergelaran tikar di ruangan sebelah—perpustakaan dan ruang kerja. Kedatangan Komunitas Kremov Pictures (selanjutnya disingkat KKP), rupanya menarik perhatian warga komunitas lain seperti Kubah Budaya, Gesbica, dan Komunitas Jawara untuk turut hadir dalam diskusi malam Rebo bernama “Ngawadang” itu.
Kedatangan para pemuda dari berbagai komunitas itu, tentu saja menyenangkan sesepuh Banten Muda yang cuma merasa muda. Tampak hadir Ali Faisal, Mahdiduri, Fikri Habibi, Rizal Fauzi dan Niduparas Erlang. Begitu pula puun Irvan Hq yang mengaku baru sampai di Serang. Buah tangannya dari Medan ia buka dengan suka cita, bahkan babang nasi goreng yang sedang berkeliling itu pun ia berhentikan. Apalagi, jika bukan untuk menjamu para pemuda yang sering lapar itu. Bintang tamu malam itu, KKP yang santun pun tidak mau ketinggalan dengan buah tangannya. Buah-buahan dan minuman soda dibuka di meja.
Dalam diskusi malam itu, Darwin Mahesa sebagai puun KKP bercerita tentang lika-liku kehidupan KKP. Sesekali, satu dan dua orang warga KKP lainnya pun menimpali. Sementara yang lainnya masih memiliki rasa malu.
‘Kegilaan’ KKP dan Film Terbaru
Melihat KKP sekarang, mungkin anda dan saya memiliki pemikiran yang sama. Komunitas pembuat film ini banyak duit.  Lihat saja produksi film dari tahun 2007-2015 yang mencapai angka 18 film itu. Produktif sekali, kan? Belum lagi karya seperti video clip, theme song atau original soundtrack, dan lainnya. Pasti mereka tidak pernah merasakan kemelaratan sebuah komunitas!
Tapi siapa yang menyangka jika komunitas yang didirikan pada 15 Juni 2007 itu, pernah melarat juga. Darwin mengakui bahwa KKP pun pernah merasakan menyebar proposal dan berulang kali mendapat penolakan. Pernah mengajukan permohonan bantuan pada pemerintah dari tahun 2010 dan hingga tahun 2013 pun tidak direspon. “Dan kami sangat membenci pemerintah saat itu.” ujar Darwin sembari tertawa dan disambut tawa para pemuda lainnya.
Aha! Mereka juga rupanya pernah dibenturkan pada kalimat; ‘tidak memiliki anggaran’, sebagai satu-satunya jawaban basi atas penolakan proposal. Lalu, kenapa saya ikut tertawa juga? Ah sudahlah. Tawa saya tidak penting. Lebih penting lagi mengetahui cara KKP bisa hidup dan tetap memproduksi film.
Persamaan visi dan misi serta menjadikannya sebagai hobi merupakan nyawa komunitas ini. Di Banten, menurut Darwin, anggota KKP dalam sensus yang dilakukan pada gathering 2010, berada di angka 200 jiwa. Kesamaan hobi dan didukung sepenuhnya oleh semangat berkarya bersama, membuat komunitas ini menjadi komunitas film yang paling banyak memiliki karya di Banten.
Berbicara komunitas, pada akhirnya kita akan berujung pada konsistensi karya.  Menurut Darwin, komunitasnya ini setiap tahun mewajibkan diri untuk membuat film. Komunitas yang sealiran dengan KKP pun—hanya memproduksi film—banyak dan terus bermunculan. Hanya saja ketidakjelasan tujuan—akan di ke manakan film yang telah dibuat itu?—membuat para komunitas film indie di Banten berjalan di tempat.  Selain itu, ketiadaan alat menjadi masalah yang ditanggung setiap komunitas pembuat film. Seringkali ditemui kasus belum ada kamera, padahal esok shooting. Tapi, shooting  harus tetap berjalan, bukan? Menyiasati kemelaratan dengan cara kreatif, merupakan kewajiban para pemuda pembuat film yang masih melarat seperti ini. Misalnya saja, dengan menggunakan fasilitas perekam di ponsel.
Kemelaratan itu sudah lewat, KKP kini telah berubah menjadi production house. Aliran pekerjaan yang lancar dan penghargaan-penghargaan, membuat komunitas ini semakin bersinar. Dari segi biaya produksi, Darwin membagi cara alternatif dan kreatif untuk menekan biaya produksi, yaitu dengan melakukan kerja sama. Baik dengan komunitas lain, pihak hotel—jika latar film memerlukan itu—dan dengan jaringan pertemanan. Begitu pula dengan aktor dan aktris yang berperan di film-film produksinya, didapatkan dari hasil kerja sama. “Lebih penting mengurusi apa yang dibutuhkan film, dibanding meratapi kemelaratan diri,” barangkali itulah inti dari pembicaraan Darwin.
Setelah film terpanjang yang digarap KKP selama 9 bulan, Jawara Kidul, dalam waktu dekat komunitas ini akan kembali menghadirkan film baru. Bocoran sementara ini, genre film yang akan diproduksi tahun ini yaitu dance movie alias film tarian yang dibalut dengan kisah percintaan. SILAPP (Shake it like a pom pom—Lirik Lagu Missy Elliot, soundtrack film Step Up 2), kurang ajar sekali obsesi komunitas ini! Keren sekali.
Selain film yang akan diproduksi dalam waktu dekat, komunitas yang memiliki dua kantor sekretariat yaitu di Cilegon dan Serang ini juga berbagi mimpi perihal produksi film yang masih disimpan. Saya pikir, komunitas ini benar-benar menjadi komunitas pembuat film yang loba kahayang (banyak maunya). Bagaimana tidak, mimpi mereka selanjutnya, yaitu memproduksi film Saija Adinda; legenda cinta yang dibuat Multatuli dalam novelnya yang berjudul Max Havelaar. Selain itu, komunitas ini juga ingin membuat film tentang Sultan Ageng Tirtayasa. Sebagai orang yang juga loba kahayang, tentu saja saya mendukung mimpi mereka.
Jika berbicara hasil produksi film KKP selama ini, buruk atau bagus itu hanya nilai dari selera seseorang. Apresiator atau kritikus film tentu saja membutuhkan nilai itu untuk menuntaskan tugas mereka. Ingat, mereka pun memiliki kepala kreatif dan perut untuk diberi makan. Sementara komunitas pembuat film, tentu saja tugasnya hanya harus mengerahkan kemampuan dengan maksimal untuk kebutuhan pembuatan film garapannya.
Bukankah di jagat raya ini tidak pernah ada yang bermimpi membuat karya yang buruk?
Komunitas Apresiator dan Ruang Putar Film
Selain komunitas pembuat film seperti KKP, ada juga komunitas apresiator film yang kegiatannya hanya menonton film dan menulis review dari film yang ditonton. Terkadang, saya iri pada provinsi-provinsi lain yang memiliki begitu banyak venue untuk ruang putar. Coba saja tengok ruang putar di Jakarta. Sebagai ibu kota, Jakarta memiliki banyak sekali ruang putar film. Sebut saja, Kineforum yang bernaung di bawah Dewan Kesenian Jakarta. Program Sinema Rabu di kafe Paviliun 28, tempat kongkow yang memiliki bioskop mini berkapasitas 30 orang. Komunitas Salihara juga sering menjadi tempat menonton film. Galeri Bawah Tanah, komunitas yang memiliki program Street Film Festival atau menonton film di ruang publik. Coffee War komunitas yang memiliki Program menonton film bernama Bioskop Merdeka. Komunitas TROTOARt yang bekerja sama dengan ruangrupa dengan mengadakan Gerobak Bioskop. Serta Forum Lenteng, komunitas yang memiliki program Sinema Dunia.
Selain itu, ruang putar milik pusat kebudayaan asing juga banyak di Jakarta. Misalnya saja, Goethe Institut yang memiliki program menonton film bertajuk Arthouse Cinema dan program tahunan yang bertajuk Jerman Fest. Pusat Kebudayaan Prancis, Institut Français d'Indonésie (IFI) Jakarta, sering mengadakan pemutaran film dan menerima tawaran kerja sama dengan komunitas lain untuk mengadakan pemutaran film di venue mereka. Acara tahunan mereka Festival Sinema Prancis, sering menghadirkan film-film pendek Indonesia. Lembaga kebudayaan Belanda, Erasmus Huis, juga aktif menyelenggarakan berbagai acara. Tidak tanggung-tanggung, ada dua festival film besar yang diselenggarakannya yaitu Erasmus Documentary Film Festival dan Europe on Screen. Begitu pula dengan pusat kebudayaan asing lainnya, seperti Jepang, Korea dan pusat kebudayaan asing lainnya.
Bandung memiliki Taman Film. Siapapun yang datang bisa menikmati film tematik dengan gratis. Selain taman film, Bandung memiliki tempat lain yang menjadi tempat menonton film seperti venue milik Institut Français d'Indonésie (IFI) Bandung, Moviestation milik perpustakaan swasta untuk umum bernama Kineruku dan tempat lainnya. Yogyakarta memiliki Taman Budaya Yogyakarta yang sering digunakan tempat pertunjukan seni. Pemutaran film biasanya diadakan di Gedung Societe Militaire. Selain itu, ada Forum Film Dokumenter (FDD) yang khusus memutar film-film dokumenter Indonesia dan dunia. Setiap bulan, mereka mempunyai acara menonton film bertajuk ScreenDocs!. Acara tahunan terbesarnya yaitu Festival Film Dokumenter, sering menjadi tempat mejeng para pembuat film dan penikmatnya. Makasar, Surabaya dan kota-kota lainnya juga bergeliat dengan tempat putar film dan keseniannya.
Banten Punya Apa?
Pertanyaan ini terbersit di pikiran saya. Melihat saat ini, sebagai kota provinsi, Serang masih belum memiliki inisiatif untuk membuat dirinya seksi. Bahkan kini, alun-alun Serang sebagai pusat kota begitu mengerikan—jika tidak ingin dikatakan menjijikkan.
Komunitas apresiator di Serang memang tidak setenar komunitas pembuat film. Para apresiator ini ada dalam tubuh komunitas yang menggeluti bidang kreatif lainnya, seperti sastra, musik, tari, teater dan lainnya. Dari merekalah kemudian tercipta acara-acara nonton bersama. Entah di basecamp sendiri dengan peralatan seadanya; laptop, sound system dan invocus pinjaman dengan tembok sebagai white screen, maupun meminjam tempat di Perpusda Banten, Museum Negeri Banten dan Aula kampus.
Bagi komunitas apresiator dan komunitas pembuat film ini, spot menonton seperti Taman Film di Bandung itu merupakan mimpi tak habis-habis. Apalagi bila benar, areal Museum Negeri Banten segera disahkan menjadi Taman Budaya Banten dan bukan omong-omong di atas podium saja. Spot menonton film berada di antara spot lain seperti panggung teater, panggung musik, panggung tari dan lainnya.
Aih! Memikirkannya saja sudah terasa sangat seksi. Rasanya, Serang ini benar-benar bisa menjadi ibu kota provinsi yang layak huni. [*]

*Uthera Kalimaya, penikmat kopi yang aktif di Kubah Budaya.
(Radar Banten, 28 April 2016)

Thursday, 30 June 2016

Tak Ada Kopi di Banten




: Catatan Ngopi Dipit 1

Oleh Uthera Kalimaya


Seorang pernah berkata pada saya; “mencicipi varian kopi itu lebih nikmat bila ada seseorang di ujung meja.” Sebelumnya, ia berkata bahwa ia sering melihat saya sibuk dengan buku atau gadget. Ia tidak pernah melihat saya datang ke kedai kopi itu bersama seseorang.  Beberapa tahun lalu itu, keberadaan saya di kedai kopi memang tidak lain hanya untuk mengerjakan tugas kuliah dan menulis dan menumpang browsing. Karena itu, saya selalu mencari kedai kopi ber-wifi (bukan ber-wife) gratis dengan meja yang bisa saya jajah sendirian. Kopi hanya sebagai alasan agar saya tidak segera diusir oleh pemilik kedai. Tapi, kehadiran orang itu dengan isi obrolan yang saya taksir tidak mendekati pada ‘modus’ lelaki, membuat saya kemudian membalikkan tujuan kedatangan saya di kedai kopi. Dari awalnya cuma mencari wifi gratis, berganti menjadi mencari kopi sembari mengerjakan tugas atau pekerjaan dan obrolan mencerdaskan yang gratis.
Memang, isi obrolan saya dan kawan baru itu mungkin tidak seberisi obrolan Jean-Paul Sartre, Ernest Hemingway, Voltaire, Betold Brecht dan tokoh-tokoh lainnya yang menjadikan kedai kopi selain menjadi tempat menulis, juga sarana interaksi sosial dan intelektual. Saat itu, saya dan kawan baru itu hanya membicarakan tugas yang sedang saya kerjakan dan perihal keseharian saja. Tapi memang benar, keberadaan seseorang di ujung meja bisa menambah kenikmatan lain pada setiap cangkir kopi yang saya pesan. Kenikmatan itulah yang membuat saya memutuskan untuk menyukai kopi dibandingkan minuman lainnya.
Kemunculan kedai-kedai kopi di Serang saat ini, sudah seperti uban di kepala. Banyak. Masing-masing dari kedai itu menawarkan berbagai fasilitas yang modern. Mulai dari kopi dan menu lainnya, hingga tempat yang cozy dan instagramable (baca: layak dijadikan tempat selfie). Hingga tidak heran bila pada akhirnya istilah ‘ngopi cantik’ (dipakai oleh gerombolan gadis muda dan mama-mama muda) dan ‘ngopi ganteng’ (dipakai oleh gerombolan lelaki muda dan papa-papa muda) pun marak didengungkan oleh kaum muda di Serang. Meskipun mereka tidak menyukai kopi dan pesanan mereka pun tidak fure kopi. Bagi para pemilik kedai, tentu saja itu merupakan potensi yang besar bagi kelangsungan bisnis mereka.
Potensi itu pula yang dilirik para pecinta kopi dan peracik yang menyebut diri sebagai ‘Pendekar Hitam’. Mereka pun tidak kalah dengan mengeluarkan istilah ‘ngopi jujur’. Ngopi yang tidak sekadar ngopi, tetapi sembari berdiskusi. Karena itulah, pada Sabtu (30/4/2016), para pecinta dan peracik kopi berkumpul di Padepokan Kupi dalam acara Ngopi Dipit.
Acara diskusi yang berlangsung mulai dari pukul 20:00 WIB itu, menyuguhkan pemaparan Ebot Feng, penyedia (atau supplier) kios kopi TSJ Serang, Agan K. Fridayanto yang menjadi pengusaha kopi dengan brand Stubruks Coffee, dan Syahid Hurriyatna peracik muda. Selain itu, para pemilik kedai kopi di Serang, seperti Marlan Rainhard dari Rumah Kopi, Imam Munandar dari Grounded Coffee dan lainnya, turut hadir untuk membincangkan kopi sekaligus workshop itu. Tampak hadir pula Ali Soero, Andi Suhud, Atif Natadisastra, Niduparas Erlang, Nuril Aswanto, dan para penikmat kopi lainnya, seperti yang disebut sebagai ‘pemburu tahrim’—penikmat kopi yang suka berlama-lama nongkrong dan berdiskusi apa saja di kedai kopi hingga dini hari.
Diskusi “Ngopi Dipit” itu dibuka oleh pemaparan Ebot Feng. Selain menceritakan sejarah, ketersediaan varian origin coffee di kiosnya dan konsep sederhana yang diusung kios kopi TSJ di Serang, pemegang tongkat kedua (generasi kedua) itu mengatakan bila kultur masyarakat penikmat kopi di Serang didominasi oleh penikmat kopi jenis robusta. Sedangkan kopi jenis arabika baru diminati ketika kedai-kedai kopi mulai bermunculan. Menurut Ebot, kopi memiliki sifat tidak konsisten, penuh misteri dan energi, akan sulit mendapatkan rasa yang sama persis dari penyeduhannya. Satu-satunya cara untuk dapat mengetahuinya, hanyalah dengan menikmatinya. “Lu nggak akan pernah tahu nikmatnya kopi, kalau lu nggak mau nyoba,” ujar Ebot.
 Sementara itu, pemilik brand Stubruks Coffee, Agan K. Fridayanto bercerita perihal keberhasilannya dalam menyaingi kedai-kedai kopi modern melalui kedai kopi pinggir jalan. Aroma origin coffee asli nusantara seperti Gayo, Aceh, Toraja, Wamena, Bali, dan varian kopi arabika lainnya pun pernah menyemerbak di Alun-alun Serang, kemudian berpindah ke Jl. Veteran. Ia bergerilya mengenalkan kopi berkualitas dengan harga yang terjangkau dan dengan cara seduhan kopi tubruk yang telah mendarah daging di Banten.
Lain Ebot dan Agan, lain pula Syahid. Pemuda berambut keriting itu mengaku baru  mengenal kopi di rumah temannya di Bandung. Cara meracik kopi yang ribet (manual brewing) itu—mulai dari menggiling biji kopi sendiri, memanaskan air dengan suhu yang diatur (92-95 °C), menyaringnya dengan filter dan lainnya—sukses menarik perhatiannya. Apalagi saat kopi telah terhidang dan ia menemukan rasa cokelat dari kopi Eithopia itu. Dari semenjak itu ia mulai bergerilya belajar meracik kopi dari satu warung kopi ke warung kopi lain. Menurutnya, barista (peracik kopi) yang baik itu tidak pelit membagi pengetahuan tentang kopi. Baik itu barista yang sudah pernah bersekolah maupun para roaster (penyangrai kopi).
“Karena kopi itu energi. Energi tidak akan habis kecuali kiamat. Itulah kenapa kopi tidak konsisten, karena banyak sekali hal-hal yang memengaruhinya. Mulai dari suhu airnya, kebersihan tempatnya dan banyak hal lainnya. Karena kembali lagi ke sifat kopi, yaitu bisa meresap aroma apa pun yang ada di sekitarnya. Kalau berhubungan dengan kopi itu sih, asal kita tahu kopi itu apa dan kopi itu untuk apa,” terangnya.
Pemilik Padepokan Kupi yang malam itu didaulat menjadi moderator, Koelit Ketjil (Aliyth Prakarsa) pun tak mau kalah melontarkan pertanyaan; kenapa rasa kopi bisa berbeda ketika diseduh dengan menggunakan cara berbeda?
Syahid mencontohkan dengan penggunaan dua alat filter seperti produk Melita dan Kalita. Meskipun keduanya seperti kembar—salah satunya tiruan dari yang lain, keduanya memiliki perbedaan. Alat filter kopi Melita yang dilahirkan oleh ibu rumah tangga berkebangsaan Jerman bernama Melitta Benz itu memiliki satu lubang kecil. Format satu lubang itu menyebabkan kopi terendam sedikit lebih lama, sebelum akhirnya mengucur ke bagian server di bawahnya. Sementara filter Kalita yang hadir setelah keberadaan Melita itu memiliki tiga lubang pada dasar alat tetesnya (flat dripper). Konsep Kalita lebih pada perendaman (immersion) dan perembesan (permeation). Tiga lubang itu untuk melancarkan proses penetesan dan mencegah over ekstraksi kopi yang diseduh.
Selain ketiga pembicara itu, moderator pun menyilakan pemilik kedai kopi dan para penikmat kopi lainnya untuk turut berbicara. Pemilik Grounded Coffee, Imam Munandar bercerita perihal muasal nama kedainya itu yang diakuinya berhubungan dengan pekerjaan sebelumnya di bidang travel. Selain itu, ketersediaan menu di kedainya pun turut ia bicarakan selain tentu saja undangan mampir pada para penikmat kopi. Sedangkan pemilik Rumah kopi, Marlan Rainhard, mengawali pembicaraannya dengan mengatakan bahwa acara mengumpulkan pecinta kopi malam itu merupakan momemtum yang tidak bisa ia ciptakan. Sebelum akhirnya ia bercerita perihal kehadiran Rumah Kopi sebagai pelopor kedai kopi di Serang. Kehadiran kedai kopi yang didirikannya itu ia sebut sebagai suatu kegilaan. Sebab pada tahun 2010 itu, di Serang sulit mencari kedai kopi yang serius. Reinhard juga berbagi tips sebelum berkecimpung dalam bisnis kopi, yaitu memiliki visi dan misi dan terus menggali kreativitas dengan menciptakan menu baru yang dijadikan identitas kedai kopinya.
Sementara itu, Ali Soero pun mengaku bila pembicaraan mengenai kopi ini sangat menarik. Selain karena budaya ngopi di Banten yang sudah sangat kental, juga karena kopi menyatukan perbedaan-perbedaan. “Budaya ngopi di Banten itu sangat kental. Ke mana pun kita pergi, pasti akan ada saja yang meminta mampir dengan mengatakan ‘woy ngopi’. Apalagi dalam pergerakan (baca: organisasi), kopi itu sangat dekat sekali,” ujarnya. Ali Soero juga berharap bila di lain waktu diadakan festival kopi sebagai ajang silaturahmi pemerintah, para petani, pegiat atau pemilik kedai kopi dan para pecinta kopi di Banten.
Selain diskusi tentang kopi, acara kumpul bersama para peracik dan pecinta kopi itu juga mengadakan donasi kopi untuk para ‘Fakir Kopi’. Gerakan berbagi kopi varian nusantara yang awalnya untuk mencegah para pemuda kekurangan kopi itu, kini berkembang menjadi gerakan berbagi kopi langsung ke jalanan. Entah itu petugas kebersihan, satpam, pemulung, penjaga palang pintu kereta, tukang parkir dan lain-lain.

Apa Kabar Kopi di Tanah Banten?

Dari seluruh varian kopi asli nusantara yang pernah saya cicipi di kedai-kedai kopi, saya belum pernah menemukan kopi Banten sebagai salah satu menunya. Saat ditanyakan pun, sebagian besar peracik kopi—bahkan penyedia kopi, tidak mengetahuinya. Kopi yang tersedia di Serang saat ini didominasi kopi dari luar daerah, sementara kopi asli tanah Banten seperti menghilang di pasaran. Padahal sewaktu kecil dulu, ende (baca: nenek) saya sering mengolah kopi yang diambil dari belakang rumah, hingga kemudian bisa kami nikmati di beranda. Pengalaman masa kecil seperti itu pun pernah dirasakan oleh kawan-kawan lainnya. Mulai dari pengalaman mencicipi, hingga disuruh memungut kopi dan menjualnya untuk uang jajan.

Ingatan itu kemudian membawa saya pada permainan ‘dulu’ dan ‘kini’. Melirik jauh ke tahun 1696 ketika Wali Kota Amsterdam, Nicholas Witsen, memerintahkan Adrian Van Ommen untuk membawa biji kopi ke Batavia. Kopi arabika saat itu mulai ditanam di timur Jatinegara dan menggunakan tanah pertikelir Kedaung (kini dikenal Pondok Kopi), kemudian menyebar ke berbagai daerah dan Banten merupakan salah daerah yang dibidik menjadi perkebunan kopi. Tidak lama setelah itu, kopi menjadi komoditi dagang yang menjadi andalan VOC dan menjadikan kopi Jawa atau dikenal secangkir Jawa (bukan secangkir kopi), menjadi minuman terenak di Eropa dan dunia hingga abad ke-19.

Demi mendukung stok kopi di pasar Eropa, VOC membuat perjanjian Koffieselsel (sistem kopi) dengan para penguasa daerah. Perjanjian itu dilanjutkan dengan dengan cultuurstelsel (sistem tanam paksa) yang diciptakan Johanness van den Bosch (1780-1844). Saat itu rakyat diwajibkan menanam komoditi ekspor milik pemerintah, salah satunya kopi, pada seperlima luas tanah yang digarap, atau bekerja 66 hari di perkebunan-perkebunan milik pemerintah. Akibatnya, kelaparan di tanah Jawa dan Sumatera terjadi pada 1840-an.

Tanam paksa ini pula yang menjadi isu yang ditulis Multatuli dalam novelnya Max Havelaar. Melalui tokoh Batavus Drooggstoppel, si makelar kopi yang tinggal di Lauriergracht No. 37 Amsterdam. Diceritakan bila saat itu, Drooggstoppel ingin menulis tentang sebuah buku mengenai kopi. Buku yang penuh kebenaran, bukan kebohongan. Pertemuannya dengan teman lama, Sjaalman yang digambarkan sedang kusut, merupakan jalannya untuk meluluskan keinginannya itu. Drooggstoppel pun menerima paket surat dan dokumen—salah satunya berisi dokumen tentang kopi (Mengenai Harga Kopi Jawa). Dari data itu, Droggstoppel kemudian meminta Ernest Stern (pemuda Jerman) menuliskan buku tentang kopi dengan bahan-bahan dari Sjaalman dengan judul “Lelang Kopi Maskapai Dagang Belanda”.

Tokoh Max Havelaar pun dimunculkan Stern, dan Banten Selatan (baca: Lebak) menjadi tempat tugasnya sebagai Asisten Residen yang baru. Havelaar digambarkan sebagai pemimpin yang pro rakyat pribumi, sementara kesewenang-wenangan itu dilakukan oleh para bupati dan kepala daerah rendahan yang nota bene berasal dari penduduk pribumi. Namun, Drooggstoppel mengharapkan cerita yang berkaitan dengan kopi, bukan cerita kemiskinan dan penindasan yang terjadi pada rakyat Lebak.

Saat itu, Stern menjawab: “Tenanglah, banyak jalan menuju Roma, tunggulah sampai akhir pendahuluan. Aku berjanji semuanya akan tiba pada kopi. Kopi, kopi, dan tidak ada yang lain, kecuali kopi.” “Ingatlah Horatius,” lanjut Stern, “bukankah dia berkata, “Omne tulit punctum qui miscuit”—Kopi dengan sesuatu yang lain? Dan, bukankah kau bertindak dengan cara yang sama ketika memasukkan gula dan susu ke dalam cangkir?” (hlm. 184)

Tapi saya tidak sedang mendukung Anda menjadi seorang Droggstoppel, atau menjadi Tuan Slijmering, atau menjadi Gubernur Jenderal Belanda yang tidak menanggapi permohonan audiensi Havelaar dalam kisahan Multatuli itu. Sekarang, mari kita intip saja data perkebunan kopi di Banten.

Dalam berita yang saya kutip dari talitarahmagina.blogspot.co.id (host-nya kontakbanten.com), Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Provinsi Banten mencatat bila pada tahun 2015 Banten memiliki lahan perkebunan kopi seluas 6.685 hektare yang tersebar di Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kota Cilegon, dan Kota Serang. Wilayah utama pertanaman berada di Kabupaten Serang dan Kabupaten Pandeglang, tepatnya di wilayah kaki Gunung Pulosari dan Gunung Karang. Pada data hasil produksi tahun 2015, tercatat sebanyak 2.607 ton dengan luas tanam 6.737 hektare yang tersebar di Kabupaten Lebak (520 ton), Kabupaten Pandeglang (839 ton), Kabupaten Serang (1.214 ton), Kota Cilegon (25 ton) dan Kota Serang (8 ton).

 Badan Pusat Statistik Provinsi Banten pada tahun 2009-2014 merilis data dengan rincian sebagai berikut: tahun 2014 tercatat menghasilkan produksi kopi sebanyak 2.524 ton, tahun 2013 hasil produksi menghasilkan 2.607, 61 ton, tahun 2012 produksi kopi menghasilkan 2.525,32 ton, tahun 2011 menghasilkan 2.239 ton, tahun 2010 menghasilkan 2.216 ton, dan tahun 2009 menghasilkan 2.216 ton.

Sementara data dari Statistik Perkebunan Indonesia Komoditas Kopi 2013–2015 yang dikeluarkan Kementerian Pertanian, Direktorat Jenderal Perkebunan, mencatat perkebunan kopi di Banten memiliki luas 6.737 hektare dengan hasil produksi sebanyak 2.608 ton/tahun 2013. Pada tahun 2014, luas perkebunan kopi di Banten berada di angka 6.934 hektare dengan hasil produksi sebanyak 2.553 ton. Sedangkan pada tahun 2015 hasil produksi kopi di Banten berada di angka 2.592 ton.

Dari data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik Provinsi Banten itu bisa kita lihat, bahwa produksi kopi di Banten mengalami kuantitas yang naik turun. Pada tahun 2013, produksi kopi di Banten cukup tinggi dibandingkan tahun-tahun lainnya. Pada tahun 2009 dan 2010 hasil produksi kopi berada di angka yang sama. Tahun 2011 grafik produksi mengalami kenaikan sebesar 23 ton. Tahun 2012 mengalami kenaikan yang cukup signifikan dari sebesar 289,32 ton, dan tahun 2013 mengalami kenaikan kembali sebesar 82,29 ton. Sedangkan pada tahun 2014, produksi kembali mengalami penurunan sebanyak 83,61 ton.

Penurunan hasil produksi itu disinyalir akibat kurangnya perhatian pengelola kebun. Masyarakat menganggap, perkebunan kopi hanya sebagai sampingan selain sektor pertanian. Sebab, produk kopi lokal tidak akan mampu bersaing dengan kopi kemasan yang beredar di pasaran sehingga mereka tidak pernah melakukan maintenance pada tanaman kopi di kebun mereka. Lamanya pertumbuhan kopi ke masa panen juga membuat para petani enggan melakukan regenerasi atau penanaman kembali. Hingga pada akhirnya sampai pada anggapan, kopi hanyalah menjadi tanaman di kebun yang bisa mereka panen dan konsumsi sendiri saja.

Meskipun, memang, Pemerintah Provinsi Banten dalam hal ini Dishutbun Banten pernah mengklaim telah melakukan imbauan agar para petani mengembangkan perkebunan kopi. Tapi, imbauan tanpa turun langsung ke lapangan untuk melakukan penyuluhan atau workshop di lapangan (baca: lahan perkebunan kopi atau di tengah masyarakat, bukan di hotel), baik pembibitan maupun perawatan itu ibarat minum kopi robusta tanpa gula setelah patah hati berkali-kali. Pahitnya sampai ke ulu hati para petani.

Padahal, seluruh dunia—termasuk kumpeni—tahu, bila Banten memiliki karakteristik dataran yang mumpuni untuk ditanami kedua jenis kopi, yaitu robusta yang memerlukan dataran 400-700 m.dpl., dan arabika yang memerlukan ketinggian 700-1500 m.dpl. Selain itu,  harga komoditas kopi di pasaran pun sangat baik. Kopi robusta Rp20-25ribu/kg dan kopi arabika harganya jauh lebih tinggi lagi. Karena itulah, keliru kiranya bila masih menganggap kopi sebagai komoditas perkebunan yang tidak menguntungkan. Apalagi bila mengingat para penikmat cairan hitam yang misterius itu tidak pernah menyusut, bahkan terus bertambah.

Maka tidak heran bila permasalahan lainnya yang muncul adalah stok kopi lokal ini tidak terdeteksi di pasar lokal Banten. Tidak heran pula bila pada akhirnya banyak pihak, khususnya para pecinta kopi, meragukan data statistik yang membingungkan itu. Saking bingungnya, saya enggan mencari tangan siapa yang melakukan kesalahan pengetikan (typo) dan siapa yang memunculkan dan menyembunyikan angka. Tangan saya, Anda, atau siapa?

Saya jadi curiga pada secangkir kopi di meja itu; sebenarnya kopi ini dari tanah mana? Ini kopi siapa? [*] 


  *** Catatan ini dimuat di Tabloid Menara Banten, edisi 5.

Monday, 30 May 2016

Kepada Lelaki Yang Hatinya Sedang Tidak Baik


Sayang, tujuh ratus tiga puluh sekian hari, sejak tatapan pertama, semesta menjabat erat kita. Aku percaya, hukum semesta sedang berlaku pada kita. Ini bukan suatu kebetulan. Meskipun, jujur saja, aku lupa pada pertemuan pertama itu. Juga pada puisi yang kau tulis di sana. Tapi, rahasia semesta memang selalu menakjubkan. Kau datang dengan membawa agenda hari depan. Meski aku tahu, masih banyak kemungkinan yang tidak bisa direncanakan. Seperti kekecewaan, kemarahan dan kepergian.

     "Bisakah aku memercayaimu?" tanyaku suatu waktu. Kalimat itu bukan tanpa sebab, tentu saja. Kau tahu, bukan? Kadang-kadang perasaan perempuan itu sangat menakutkan. Mereka memiliki sensor yang lebih peka dari alat sensor di bandara, bahkan dari penciuman anjing penjaga. Sekecil apapun masalah, alarm di kepalanya berbunyi. Jarak, tidak berlaku lagi di sini.
   Sayang, sensor itu aku menamainya 'sakit kepala'. Bukan tanpa sebab. Kepalaku memang menjadi sangat sakit, sesakit-sakitnya rasa sakit. Gerakan sekecil apapun hanya menambah rasa sakit saja. Memalingkan wajah tidak bisa, membuka resleting kantung obat pun, sungguh menyiksa. Kau tentu tidak pernah merasakan sakit macam ini. Kau lelaki. Sama seperti seluruh sahabat, kawan dan rekan kerjaku yang lebih banyak laki-laki. Kau dan mereka tidak memiliki kepekaan itu. Kalian bicara, ya sekadar bicara. Membicarakan perempuan seksi yang lewat di depan mata, ya sekadar membicarakannya. Bahkan ketika menyukai dan memacarinya pun, menurut kalian biasa saja.
     Tapi berbeda dengan perempuan, sayang. Kalian bicara satu kata atau kalimat, akan diingat hingga kiamat. Karena itu, aku sudah bilang padamu juga pada mereka. Hati-hati menjaga mulut dan ibu jari. Sebab, bagi perempuan semuanya terhubung pada 'perasaan' dan kepercayaan. Bicara mengenai kepercayaan, kepercayaan para perempuan bisa mencapai angka 100% dengan banyak rincian. Aku tidak perlu merincinya, bukan?
    Tentu, tidak semua perempuan demikian. Ada yang memutuskan tetap percaya saja, meskipun para lelaki telah mengkhianatinya berulang kali. Berbohong tiada henti. Keputusan itu karena beberapa sebab, entah anak (bila sudah berumah tangga), harta atau apapun. Perempuan yang memilih percaya saja ini tidaklah bodoh. Mereka lebih pandai, menurutku. Pandai memanipulasi rasa sakit, gerak tubuh, ekspresi dan lain sebagainya. Mereka mau menelan seluruh sakit, pandai menyembunyikan air mata dari seluruh mata di dunia ini dan seterusnya.
    Aku pun memutuskan mempercayaimu. Meski alarm terus berbunyi. Sialan. Kepalaku sakit berulang kali, bahkan selera makanku kacau. Itu hanyalah akibat yang membuatku akhirnya mendesakmu. Bukan, bukan karena aku suka melakukannya. Tapi, lebih kepada aku sedang meminta tolong padamu untuk mematikan alarm di kepalaku.
     "Hatiku sedang tidak baik," katamu pada akhirnya. Ketidakbaikan yang telah kuprediksi. Tapi tetap membuat dadaku nyeri. Sialan. Aku benci pada diriku yang seperti ini.
      Jadi, begini saja, sayang. Jika hatimu sedang tidak baik, silakan berbalik dan perbaiki dengan upaya terbaik. Aku percaya, manusia bisa menyembuhkan diri sendiri dengan atau tanpa bantuan orang lain. Aku juga percaya, kau akan menjaga kesejatian dirimu. Aku pun akan menyembuhkan diri dan menyiasati keinginan-keinginan yang tidak wajar di dalam dadaku. Juga, akan tetap menjaga janji untuk belajar pada apapun, pada siapapun. Tentu saja, aku akan tetap menjaga diri tanpa rasa takut pada apapun.
       Bila hatimu tidak kunjung membaik, kita serahkan kembali pada semesta. Biar semesta lagi yang menentukan kebaikan macam apa untuk kita.
    Dan bila kita dipertemukan kembali entah di mana dan pada purnama keberapa, barangkali itulah jawabannya. Saat hal itu terjadi, mari jangan berbalik lagi. [Serang, 30 Mei 2016]

P.S: Jangan lupa makan dan hati-hati di jalan.

Friday, 8 April 2016

Menjadi Generasi Cabe Maksimal

 
Doc: Encep Abdullah

*Apresiasi Buku Bahasa Cabe-cabean karya Encep Abdullah


Beberapa tahun lalu, netizen diramaikan produk cabe-cabean. Wartawan dan orang-orang bahasa pada akhirnya kecipratan pekerjaan. Jika menyoal bahasa yang menyangkut urusan perut seperti ini, kawan saya, Encep Abdullah, tidak mau tertinggal. Ia tidak mau menerima begitu saja istilah baru itu. Selain karena merasa sebagai jebolan Pendidikan Bahasa Indonesia yang kesehariannya mengajar bahasa, juga karena—saya menyakini ini—ia sedang membutuhkan uang untuk mentraktir pacarnya. Maka, ia pun menulis tulisan pendek yang ia kirimkan ke kolom bahasa di media massa. Brengseknya, tulisannya itu langsung dimuat. Begitu pula dengan tulisan-tulisannya yang lain. Entah dari hasil tangkapannya di lapangan ketika ia asyik membonceng pacarnya, dari hasil obrolannya dengan siswa, maupun dari hasil pertengkaran dengan orang tuanya. Betapa brengsek, bukan?
Mengusung nama Azka EA Abhipraya, ia terus mengulas persoalan bahasa ini hingga honornya naik. Meski kemudian ia memutuskan kembali pada nama asli, yaitu Encep Abdullah. Keputusan itu ia ambil atas dasar pemikiran; 1) ia sudah akan kawin, beranak dan berbahagia—mengutip puisi Tak Sepadan karya Chairil Anwar.; 2) Nama pena tidak berlaku di SK; 3) Tidak mau durhaka pada orangtua. Dalam hal ini, ia menerima konsekuensi honornya kembali ke honor penulis pemula, meskipun dengan sangat jengkel.
Dari tulisan-tulisan itulah, buku bertajuk Cabe-Cabean ini lahir. Meskipun dengan susah payah karena sempat menghadapi kenyataan ‘ditipu’ percetakan yang berimbas pada penundaan kelahiran, padahal saat itu pesta sudah dirayakan.
Buku ini mendapat Kata Pengantar serta dieditori langsung oleh “Polisi Bahasa” kami sewaktu di kampus, yaitu dosen pembunuh mood berbahasa generasi kekinian alias dosen pembimbing yang paling rajin mencoret seluruh isi skripsi alias mantan Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untirta, Odien Rosidin. Saya yakin, saat mengeditori naskah buku ini pun, segala macam kembang bermekaran. Oleh karena itu, Anda tidak perlu mengkhawatirkan keberadaan kesalahan berbahasa di buku yang diterbitkan oleh Kubah Budaya ini.
Dalam Kata Pengantar, Odien memberikan pemaparan kasus berbahasa di media sosial yang diperkarakan secara hukum. Dari beberapa kasus itu, ia tarik kesimpulan bahwa kita tidak bisa bermain-main dengan urusan bahasa untuk sekadar mencari kesenangan demi meluapkan emosi. Meskipun, bahasa secara hakikat adalah lambang manasuka berupa nomenklatur yang disepakati sebagai alat penghubung. Tetapi, bahasa juga melekat dengan pikiran, nilai, norma, budaya, dan ideologi. Odien juga mengatakan bahwa urusan bahasa adalah urusan yang serius dan bukan perkara iseng ataupun candaan.
Sampai di paragraf itu, saya mulai deg-degan. Jangan-jangan setelah tulisan ini dihantarkan ke khalayak, saya akan disidang dosen yang memberi saya nilai C pada mata kuliah Linguistik itu. Bisa-bisa nilai itu ia ralat menjadi Z (zonk!). Oh, tidak! Lebih baik saya langsung kabur dan masuk pada isi Cabe-cabean.
Encep Abdullah ini berengsek. Alih-alih menghidangkan bahasa yang membuat deg-degan, serius seperti buku-buku rujukan mata kuliah, ia malah membahas persoalan bahasa yang menyebalkan itu dengan cara yang menyenangkan. Meskipun sadar atau tidak, sebenarnya pembaca sedang dibawa masuk ke dalam arena persidangan bahasa. Dalam hal ini, Encep Abdullah berhasil mengubah suasana yang sering membuat pembaca tertidur pulas, menjadi suasana pesta dansa yang memiliki 28 hidangan. yaitu: 1) Persoalan Aku dan Saya; (2 Bahasa Plang Jalan Tol; 3) Rokok Membunuhmu; 4) Cabe-cabean: Reduplikasi atau Akronim?; 5) Keberengsekan Vokal E dan I; 6) Fonem /H/antu; 7) Doktrin Bahasa Nenek Moyang; 8) Dinamika Slogan Para Caleg; 9) Mempercayai Pakai P?; 10) Woles Aja Keles; 11) Kata Ustaz; 12) Piala Dunia; 13) Ramadan; 14) Low Batt; 15) Telanjur Telentang; 16) Bahasa Nembak, Damai dan Korupsi; 17) Berteduh; 18) Begal; 19) Buang Air Harap Disiram!; 20) Bulan Bahasa di Mata Kita; 21) Pertamini; 22) Ok, Fix!; 23) Ngisi, Mengisi, dan Berisi; 24) Pedofil atau Paedofil; 25) Wakwaw; 26) Tunjuk Tangan; 27) Dirgahayu RI; 28) Lebaran.
Dari ke-28 hidangan itu, pembaca akan menemukan tawa, canda dan suasana keseharian yang tidak berjarak. Tidak terlalu serius dan sangat kekinian. Tapi, alam bawah sadar pembaca akan menerima rasa yang sama seperti saat membaca buku rujukan mata kuliah, buku how to dan buku-buku sejenisnya, yaitu kesadaran. Kesadaran yang dibalut keriangan inilah yang ditanak Encep Abdullah dalam ke-28 hidangan itu. Encep seperti tidak ingin mengikuti jejak para pendahulunya yang sering membuat suasana malas membaca itu begitu lekat. Begitu dekat dengan diri generasi masa kini yang mengaku sebagai pelajar, mahasiswa, guru, atau profesi lainnya.

Generasi Cabe Maksimal

Selain kerenyahan dan kekinian yang disuguhkan Encep, buku setebal 97 halaman ini juga seperti tantangan Encep kepada para generasi saat ini. Apalagi jika bukan untuk lebih memaksimalkan pengetahuan berbahasanya. Generasi yang mana? Tentu saja generasi yang sering dan suka mencampuradukan bahasa, sering menjawab soal UTS dan UAS dengan bahasa tutur, sering mengirim SMS dengan huruf BeSaR K3C1L mengganti saya menjadi saia atau aku menjadi aq atau kita menjadi qita, kalau menjadi kalo, mau menjadi mo dan lain-lain. Suka membuat singkatan seenak perut. Generasi Cabe-cabean.
Banyak pihak menduga jika kehadiran generasi ini akibat dari mahalnya harga Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Banyaknya orang yang meremehkan bahasa Indonesia. Banyaknya guru-guru keilmuan lain yang mengajarkan bahasa Indonesia kepada siswa. Selain itu, kemunculan kamus bahasa prokem atau bahasa gaul, menambah kekhawatiran jika bahasa Indonesia akan punah.
Tapi, alih-alih mengkhawatirkan kepunahan Bahasa Indonesia, Encep Abdullah malah mendukung keberadaan generasi ini. Dalam sesi diskusi, Encep berseloroh jika kehadiran generasi ini malah akan menambah kosakata Bahasa Indonesia. Hal itu akan berakibat pada ketebalan Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi selanjutanya. Hanya saja, menurut Encep, pengguna bahasa generasi ini kurang kreatif dan cenderung tidak konsisten. Selain tidak memiliki rumus sendiri, generasi ini cenderung sembrono dan tidak memiliki aturan penggunaan.
Oleh karena itu, apabila ingin menjadi generasi masa kini, jadilah “Generasi Cabe Maksimal”. Young Lex yang dikutip Encep dalam buku ini memberikan ciri Cabe-cabean itu: (1) pakai behel untuk bergaya, (2) segala sesuatu di-update dan memakai rok di atas perut, (6) cabe sering teriak cabe, (7) malam mingguan di pasar malam, (8) pacaran di fly over, (9) tidak terima keadaan, dan (10) berbaju ketat, bercelana pendek, naik motor. Maka, “Generasi Cabe Maksimal” lebih kepada memaksimalkan pergaulan dengan terlebih dahulu 1) mempelajari bahasa Indonesia dengan baik, 2) berkreativitas, 3) memahami rumus tata bahasa, 4) berkonsisten, dan 5) gemar membaca.
Kelima komponen dasar ini yang bisa membalikkan makna buruk yang selama ini dilekatkan pada istilah Cabe-cabean. Seterah (baca: terserah) mau nongkrong di mana, sama siapa, memakai pakaian seperti apa dan berwarna apa (cabe ijo, merah, oranye), asalkan bisa memaksimalkan dan menerapkan kelima komponen dasar itu, maka generasi ini akan terselamatkan sehingga isengers seperti Encep Abdullah ini tidak akan mendapat pekerjaan. Jika tidak, maka generasi ini hanya akan menjadi generasi ternak saja. Dan orang-orang seperti Encep yang iseng itu dengan senang hati memerah dan mengisi perutnya. Sementara ternak tidak mendapat apa pun. So, siap menjadi “Generasi Cabe Maksimal?” [*]


*Uthera Kalimaya, tukang ngopi dan pembaca yang bergiat di Kubah Budaya.